DIPILIH UNTUK DISELAMATKAN
Matius 13:47-50

DIPILIH UNTUK DISELAMATKAN
Matius 13:47-50

           Hari-hari ini kita sedang belajar tentang Akhir Zaman (Eskatologi), mengingat awal 2026 kita sedang melihat keadaan dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan melalui ilustrasi bapak gembala yang mengutip level status gunung berapi yaitu level 1 (Normal-Hijau), Level 2 (Waspada-Kuning), Level 3 (Siaga-Orange), Level 4 (Awas-Merah). Oleh sebab itu, level spiritualitas orang percaya juga harus semakin dipersiapkan. Dari Firman Tuhan ini, saya teringat dengan perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus tentang PUKAT. Bukan tanpa alasan Yesus menggunakan perumpamaan tentang pukat. Sebab pada saat itu Yesus berada di tepi Danau Galilea dan perumpamaan yang sesuai dengan kondisi orang-orang di daerah itu adalah memancing atau pukat yang sesuai dengan profesi orang disana.

           Yang menjadi pemikiran awal adalah kenapa Yesus menggambarkan Kerajaan surga seperti pukat (ay. 47)? kata “pukat yang dilabuhkan” artinya jaring yang ditebarkan. Pukat dalam bahasa aslinya σαγήνη (sagēnē) berasal dari akar kata yang berarti “mengepung” atau “menutup”. Dalam bahasa Indonesia, ini diterjemahkan sebagai Pukat atau Jaring Tarik. Mungkin kita akan berpikir kenapa Yesus tidak menggambarkan seperti Jala yang perna disampaikan kepada Petrus. Yesus bukan sembarangan memilih perumpamaan, sebab Pukat dan Jala itu berbeda dari ukuran, cara menaburkan dan jumlah yang akan didapatkan.

  • Ukuran Pukat : jenis jaring terbesar yang digunakan di Danau Galilea pada abad pertama. Panjangnya bisa mencapai ratusan meter dengan tinggi 2 hingga 4 meter.
  • Mekanisme Pukat : Jaring ini memiliki pelampung di bagian atas dan pemberat (timah) di bagian bawah. Jaring ini tidak dilempar, melainkan “ditebarkan” membentuk busur besar oleh perahu, lalu ditarik perlahan menuju pantai oleh sekelompok orang, atau ditarik oleh dua perahu yang bergerak sejajar.

           Lalu apa itu pukat yang dimaksudkan Yesus ? Pukat adalah gambaran cara Allah bekerja di Akhir Zaman. Poin penting dari pukat pertama, Yesus mau menjelaskan bahwa tentang Kerajaan surga tidak pilih-pilih atau untuk orang tertentu, suku tertentu melainkan untuk semua orang. kedua, Yesus mau menjelaskan bahwa tidak ada yang bisa lepas dari masa Akhir Zaman (Gambaran pukat yang mengepung ikan). Contoh Ilmuwan terkemuka seperti Stephen Hawking dan Elon Musk mendesak manusia pindah ke planet lain, terutama Mars, dalam 100 tahun ke depan untuk menghindari kepunahan akibat perubahan iklim, perang nuklir, dan ancaman asteroid. ketiga, Yesus mau menjelaskan bahwa akan ada yang diterima dan ada yang dibuang pada masa Akhir Zaman.

           Maka sekarang menjadi pertanyaannya adalah siapa yang diterima dan siapa yang di buang pada masa Akhir Zaman ? Untuk menjelaskan ini, Yesus memakai perumpamaan ikan yang ada di dalam pukat. Pada ayat 48 ketika pukat di tarik maka akan ada ikan baik (orang benar) dan ikan busuk (orang jahat) yang dipisahkan.

  1. Ikan baik
  2.             Dalam bahasa asli dituliskan τὰ καλὰ (ta kala) Kata dasar: καλός (kalos). Menggambarkan sesuatu yang tidak hanya baik di dalamnya, tetapi juga “pas”, “elok”, dan “tepat guna” (Berfungsi). Dalam konteks nelayan Yahudi, “baik” bukan sekadar soal moral, tapi kepatuhan pada hukum Taurat (seperti ikan yang bersisik dan bersirip di dalam pukat) serta kualitas dagingnya untuk dikonsumsi. Penggunaan kala menunjukkan bahwa warga Kerajaan Sorga adalah mereka yang hidupnya memancarkan “keindahan” ilahi.
  3. Ikan Tidak Baik
  4.             Dalam Bahasa aslinya dituliskan τὰ σαπρὰ (ta sapra): Busuk yang Tak Berguna. Sapros berasal dari kata kerja sepō, yang berarti “membusuk” atau “menjadi lapuk”. Tidak baik atau busuk ini berarti sesuatu yang pada awalnya baik namun kemudian mengalami kebusukan. Apel busuk pada mulanya adalah apel yang baik sejalannya waktu menjadi busuk. Jadi ini menggambarkan sesuatu yang tadinya baik menjadi busuk. Spiritualitas kita pun bisa seperti ini yang awalnya baik (setia) menjadi busuk.
                Menjadi kebingungan saya adalah bagaimana mungkin ikan di dalam pukat itu bisa menjadi busuk? sementara ikan itu berada didalam air dan masih dalam keadaan yang bagus, maka inilah gambaran SAPRA (sapros). Apa yang menyebabkan ikan menjadi busuk ? pertama Ikan yang tertangkap seringkali mati lemas atau terluka di dalam jaring akibat meronta. Kedua, Suhu air yang tinggi dan paparan sinar matahari langsung (jika pukat mengapung) mempercepat proses pembusukan (Kondisi lingkungan).

           Maka beginilah kondisi diakhir zaman, Banyak orang akan meninggalkan kasihnya yang semula, dimana awalnya membakar kuat secara rohani tetapi sekarang sudah mati. Kesehatan rohaninya menjadi sakit atau sudah busuk (Wah. 2:2-6). Dan inillah yang dimaksud dalam perumpamaan ini, bahwa ikan yang awalnya sehat sekarang menjadi busuk.

           Hal yang perlu disadari juga bahwa akan terjadi pemisahan antara ikan baik dan ikan yang tidak baik. perhatikan ayat 48, Ketika pukat itu sudah ada dipantai yaitu Melambangkan “akhir zaman”. Selama jaring masih di dalam air, pemisahan belum terjadi. Akan ada pemisahan yang dilakukan oleh nelayan (malaikat-malaikat). Akan berbeda kondisi yang terjadi antara ikan baik dan ikan tidak baik

  1. Ikan baik
  2.             Συνέλεξαν (Synelexan): Nelayan “mengumpulkan dengan teliti” yang baik ke dalam wadah (aggē). Ada tindakan pemeliharaan dan penghargaan terhadap nilai ikan tersebut.
  3. Ikan Tidak Baik
  4.            Ἔξω ἔβαλον (Exō ebalon): Yang buruk “dibuang ke luar”. Kata ebalon (dari ballō) menunjukkan tindakan membuang dengan paksa atau mencampakkan. Ini menegaskan bahwa pada akhirnya, tidak ada tempat bagi "kebusukan" di dalam kediaman Allah yang kudus. Kemanakah ikan busuk ini di buang, apakah kelaut? Tidak. Perhatikan ayat 49-50. Akan dibuang kedalam dapur api yaitu kebinasaan yang akan mereka terima. Dapur Api, Ratapan, dan Kertak Gigi: Ini adalah gaya bahasa apokaliptik yang khas dalam Injil Matius untuk menggambarkan penyesalan yang mendalam dan keterpisahan abadi dari Allah.

Maka, bagaimana kehidupan kita saat ini? Apakah seperti ikan Baik atau seperti ikan Busuk?

By Pdt. Dionnesius Julianto

Posting Komentar

0 Komentar