FREE ACCESS (Akses Bebas)
Ibrani 9 & 10
Saya adalah orang yang suka dengan namanya gratis. Apalagi jika ini berkaitan dengan akses gratis yang berarti bebas kapan saja bisa kita gunakan dengan gratis. contoh ilustrasi ketika saya mendapatkan akses gratis untuk menikmati suatu tempat yang mewah dengan berbagai macam gerai. Saya diberikan kartu sebagai pegangan akses gratis untuk saya nikmati. Apakah saya sia-siakan? tentu tidak, saya memanfaatkan semaksimal mungkin. Maka kesempatan ini kita akan belajar, tentang akses gratis yang diberikan Tuhan. Sebab kita tidak mau menyia-nyiakan akses yang diberikan Tuhan secara gratis.
Lebih dahulu perlu kita pahami tentang konteks historical dari Ibrani 9 dan 10 ini. Surat Ibrani ini diberikan kepada jemaat Kristen yang berlatar belakang Yahudi yang hidup dibawa tekanan. Mereka menghadapi penganiayaan sosial dan ekonomi. Sebagai pengikut Kristus mereka tidak dianggap dalam komunitas Yahudi, kehilangan keamanan sosial dan resiko nyawa. Oleh sebab itu, mereka mulai mengingat masa dulu dan tergoda untuk kembali kepada sistem keimamatan dalam Perjanjian Lama. Mereka merasa di zaman keimamatan tidak ada penganiayaan sosial dan ekomoni bahkan dalam sosial pun aman sebab diterima dalam komunitas Yahudi. Oleh sebab itu, penulis ingin memberitahukan kepada orang-orang Kristen Yahudi pada saat itu yang mulai tergoda untuk kepada kesistem keimamatan. Bahkan penulis menekankan bahwa rugi kalau kita kembali kepada sistem lama sebab yang sekarang sudah diberikan keuntungan besar bagi kita.
Mungkin sebagian diantara kita masih bingung kenapa dikatakan rugi jika kembali kesistem keimamatan seperti yang diinginkan orang Kristen Yahudi pada saat itu. Kita akan melihat sistem dalam kemah suci dalam Perjanjian Lama. Dalam kemah suci ada dua bagian yang disebut dengan Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus. Ruang Kudus bagian imam dan Ruang Maha Kudus bagian dari Imam Besar (Ibrani 9:1-7). Imam Besar masuk kedalam ruang maha kudus hanya 1 kali dalam satu tahun untuk memperingati hari pendamaian (Ay 7 TSI). Makanya dalam sisten keimamatan Perjanjian Lama itu aksesnya terbatas bahkan ayat 8 katakan BELUM TERBUKA. Lalu dimana posisi orang Kristen Yahudi dan orang Kristen non Yahudi. Orang Kristen Yahudi boleh sampai di pelataran bait Suci sementara orang Kristen non Yahudi sampai bata tembok pemisah (sorag).
Sistem dalam kemah suci ini hanyalah gambaran akan karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah yaitu adanya penebusan melalui darah. Maka sistem lama ini sudah tidak berlaku karena Kristus sudah datang dan menghancurkan tirai pemisah dibait suci (Matius 27:51) dan Kristus menjadi imam besar bagi kita (Ibrani 9:11-12). Maka secara dapat dilihat dalam tabel perbandingan ini.
| Aspek | Perjanjian Lama | Perjanjian Baru |
|---|---|---|
| Keimamatan | Keturunan Lewi dan Harun | Kristus |
| Kurban | Darah hewan yang harus dipersembahkan berulang-ulang setiap tahun. Ibrani 9:7; 10:11 | Darah diri-Nya sendiri yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya. Ibrani 9:12 |
| Hasil | Hanya menyucikan secara lahiriah dan mengingatkan akan dosa. Ibrani 9:13 | Menyucikan hati nurani dan memulihkan hubungan dengan Allah secara tuntas. Ibrani 9:14 |
| Akses | Terbatas (hanya Iman dan Imam Besar, setahun sekali). Ibrani 9:6-8 | Terbuka lebar bagi semua orang percaya setiap saat. Ibrani 9:11 |
Dari perbandingan ini, Maka Kita adalah orang beruntung yang diberikan akses bebas oleh Tuhan. Saya mengajak kita untuk memanfaatkan akses bebas ini sebaik mungkin dan jangan menyia-nyiakannya. Sebab kebanyakan orang Kristen baik Pendeta ataupun Jemaat menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Oleh sebab itu, Penulis kitab Ibrani memberikan nasehat supaya tidak menyia-nyiakan akses yang diberikan Tuhan
- Jangan Malas (Ibrani 10:25 TSI)
Orang yang cenderung menyia-nyiakan kesempatan adalah orang malas. Penulis mengingatkan orang Kristen Yahudi pada saat itu untuk tidak malas. Sebab, karena mereka tergoda atau terpengaruh kepada gaya keimamatan dalam Perjanjian Lama yang membuat mereka malas. Makanya Penulis kitab Ibrani mengajak untuk manfaatkan akses bebas yang diberikan Tuhan dengan tidak malas. Bagaimana dengan kita saat ini? apakah kita tergolong orang malas yang menyia-nyiakan akses bebas yang diberikan Tuhan? secara sederhana hari-hari ini diingatkan kita untuk tidak malas berdoa, melayani, baca firman, membangun hubungan dengan Tuhan. Oleh sebab itu, kalau diajak persekutuan doa di gereja jangan MALAS, diajak melayani jangan lari, diajak beribadahpun hadir. - Hatinya Harus Benar (Ibrani 10:22)
Sekarang kita menjadi mengerti, kenapa masih ada orang Kristen yang menyia-nyiakan akses yang diberikan Tuhan (malas ibadah, malas berdoa, malas melayani dan sebagainya) ? SEBAB HATINYA BERMASALAH. Penulis mengingatkan orang Kristen Yahudi dan kita semua saat ini untuk melihat hati kita. Sebab ada 2 hal yang perlu disadari berkaitan dengan kualitas hati.- Hati Yang Tulus ἀληθινῆς καρδίας (alēthinēs kardias)
Kata ἀληθινῆς berarti jujur atau tanpa kepura-puraan. Penulis ibrani mengingatkan orang Kristen Yahudi pada saat itu, Orang yang cenderung menyia-nyiakan akses yang diberikan Tuhan adalah orang yang masih penuh dengan kepura-puraan atau kepalsuan dalam dirinya. Orang yang hatinya tidak tulus atau masih ada kepura-puraan berarti ada sesuatu yang disembunyikan kepada Tuhan. - Keyakinan iman yang teguh πληροφορίᾳ πίστεως (plēroforia pisteōs)
Secara harfiah berarti kepastian yang mutlak. Ini adalah antitesis dari keraguan. Kita datang bukan karena kita merasa layak, tapi karena kita yakin penuh pada apa yang telah Yesus lakukan. Orang yang menyia-nyiakan akses yang Tuhan berikan adalah orang yang hatinya masih penuh dengan keraguan. Kalau orang yang sudah percaya penuh maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah.
- Hati Yang Tulus ἀληθινῆς καρδίας (alēthinēs kardias)
Ketika kita tau bahwa aksesnya sudah bebas untuk berjumpa Tuhan, maka jangan sia-siakan itu. Penulis memberi perintah kepada orang Kristen Yahudi untuk "Karena itu marilah kita menghadap Allah..." Makna: Kata Yunani yang digunakan adalah προσερχώμεθα (proserchometha) yang berarti ini adalah tindakan yang terus-menerus dilakukan (bukan sekali saja). Oleh karena itu, Menghampiri Tuhan bukan sekadar ritual mingguan di gereja. Kita dipanggil untuk terus-menerus "mendekat" dalam doa, penyembahan, dan ketaatan setiap hari.
Apakah kita adalah orang yang memanfaatkan akses yang diberikan Tuhan atau sebaliknya mala menyia-nyiakan?
By Pdt. Dionnesius Julianto
0 Komentar