Yudas Iskariot Di Akhir Zaman

Yudas Iskariot Di Akhir Zaman

           Nama Yudas Iskariot bukanlah sosok yang asing dalam iman Kristen, dari anak-anak sampai yang dewasa tua pun mengetahui tentang nama ini. Yudas Iskariot paling sering disebut sebagai pengkhianat. Makanya nama Yudas Iskariot dihindari oleh orangtua dalam memberikan nama kepada anaknya. Padahal nama Yudas Iskariot ini memiliki arti yang bagus. Nama Yudas dari bahasa Ibrani YEHUDA yang berarti pujian atau bersyukur kepada Tuhan dan Iskariota Isy Keriot yang artinya orang dari Keriot (sebuah wilayah di Yudea Selatan). Arti nama yang bagus tetapi tidak sesuai dengan karakter yang dilakukan oleh Yudas Iskariot.

           Saya adalah orang yang baru pertama kali membahas dan mengupas sosok dari Yudas Iskariot. Sebab bagi saya, kita sudah memahami sosok Yudas ini, sehingga apa yang perlu dipelajari lagi. Tetapi akhir-akhir ini saya mendengar hamba-hamba Tuhan membahas nama Yudas Iskariot yang membuat saya menjadi penasaran untuk mengupas sosok pengkhianat ini. Maka, Siapa itu Yudas Iskariot ?

  • Salah satu dari 12 murid yang dipilih oleh Yesus (Lukas 6:12-16)
  • Satu-satunya murid yang berasal dari Yudea dan sebelas murid lainnya dari Galilea yaitu orang kampung/pedalaman. Sementara Yudas Iskariot berasal dari daerah Yudea yang lebih maju dibandingkan Galilea.
  • Jabatan sebagai bendahara (Yohanes 12:6; 13:29). salah satu dari 12 rasul yang dipercaya memegang kantong uang dan bertindak sebagai bendahara kelompok Yesus. Tugasnya termasuk mengelola dana pelayanan, membeli kebutuhan sehari-hari, dan membagikan sedekah untuk orang miskin.
  • Murid yang menjual Yesus (Lukas 22:3-6)
  • Mati dengan gantung diri (Matius 27:5)

           Penting bagi kita untuk memahami terlebih dahulu sosok dari Yudas Iskariot. Sebab dari kita memahami tentang fakta dari Yudas Iskariot akan membantu kita memahami, penyebab dari Yudas mengkhianati Yesus. Maka sesuai dengan tema yaitu Yudas Iskariot Di Akhir Zaman, menjadi refleksi bagi kehidupan kita bahwa semua orang berpontensi seperti Yudas Iskariot di akhir zaman ini. Maka untuk mengantisipasi supaya kita tidak menjadi Yudas Iskariot di akhir zaman, maka perlu kita mengetahui penyebab Yudas Iskariot menjual Yesus (Pengkhianat).

  1. Keagamaan hanya formalitas
               Ketika Yudas membawa rombongan prajurit ke Taman Getsemani, dia memberikan sebuah tanda orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkap Dia (Matius 26:48). Dalam teks ini Yudas mendekati Yesus dan berkata Salam Rabi lalu mencium DIA. Yang menarik untuk dipahami adalah adanya perbedaan kata yang sangat kontras. Saat Yudas merencanakn tanda di ayat 48, kata yang digunakan Phileso (mencium sekilas sebagai tanda). Namun, ketika Yudas benar-benar melakukannya di ayat 49, teks tersebut menggunakan kata katediphilesen yang memiliki arti secara inteks, berulang kali atau dengan sangat mesra. Maka ada perbadaan ketika diawal Yudas Iskariot memberikan tanda dengan mencium yang adalah ciuman sekilas karena sebagai tanda, tetapi nyatanya ketika Yudas mencium Yesus bukan sekilas melainkan berulang kali. Ada apa dibalik perbedaan ini ?
               Yudas menggunakan symbol kasih (cium) untuk membungkus motif pengkhianatan. Yang menarik adalah ketika Yudas memilih memberikan tanda dengan cara mencium bukan menunjuk. Dalam tradisi timur tengah kuno, memcium tangan atau pipi seorang rabi adalah ekspersi formal sebagai rasa hormat ataupun kasih. Secara sudut pandang dari luar, Yudas Iskariot mencium Yesus seperti murid yang rindu dan hormat pada gurunya. Namun nyatanya ciuman itu bukan wujud kerinduan atau kehormatan melainkan alat untuk mencari keuntungan pribadi. Apa keuntungan yang dicari oleh Yudas Iskariot ? 30 keping perak.
               Yudas Iskaroit di akhir zaman adalah orang yang menjadikan ritual agama sebagai alat untuk mencari keutungan pribadi. Maka ini jadi teguran keras bagi gereja (orang percaya) diakhir zaman. Mungkin kita tidak sadar bahwa saat ini kita sedang seperti Yudas Iskariot yang mencium Yesus dalam ritual ibadah. Contoh kita menyembah, mengangkat tangan, melayani di gereja, menjadi donatur, menerima perjamuan kudus, rajin berdoa dan baca Alkitab yang menggambarkan sebagai sosok yang rindu dan hormat kepada Tuhannya. Tetapi nyatanya itu hanya alat, topeng ataupun sandiwara untuk mencari keuntungan pribadi. Ketika keuntungan itu sudah diterima maka Yesus ditinggalkan (dijual) seperti yang dilakukan Yudas Iskariot.
               Oleh sebab itu, Jadikan agama sebagai alat untuk keintiman dengan Tuhan. Orang yang hidupnya intim dengan Tuhan bukan keuntungannya yang dicari melainkan nyawanya siap dikorbankan untuk Kristus. Jika level kita saat ini adalah orang yang menyembah Yesus hanya untuk keuntungan maka kita adalah Yudas Iskariot di Akhir Zaman.
  2. Diawali dengan kompromi dosa
               Yudas Iskariot menjadi pengkhianat bukan secara spontan dalam satu malam, melainkan diawali dengan adanya kompromi terhadap dosa. Mari kita perhatikan Yohanes 12:4-6, ketika Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal, Yudas memprotes dengan alasan kemanusiaan. Mengapa minyak nawarastu ini tidak dijual seharga tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?. Sekilas memperhatikan pernyataan dari Yudas Iskariot terlihat benar dan memiliki tujuan yang baik. Tetap yang menarik di ayat 6, Yohanes menyebut Yudas Iskariot sebagai pencuri yang mengambil uang kas. Kata Yunani mengambil Disini adalah ebastazen yang artinya membawa. Sehingga dalam konteks ini berarti menggelapkan atau mencuri sedikit demi sedikit.
               Maka terjawab sudah bahwa pengkhinatan Yudas Iskariot bukan terjadi secara spontan atau dalam sekejap malam, melainkan adanya kompromi dengan dosa. Kehancuran dari Yudas Iskariot adalah dimulai ketika tangannya terbiasa mengambil uang receh dari kas yang dipegangnya. Dari mencuri kas, naik kelas menjadi menjual Yesus Kristus. Sehingga Yudas Iskariot diakhir zaman adalah orang yang kompromi dengan dosa.
               Apa dosa yang sedang kita maklumi hari-hari ini ? dosa seperti apa yang sedang dikompromikan. Mungkin saat ini kita sedang kompromi dengan kebohongan, kemunafikan, kebencian, fitnah, keserakahan, pesta pora dan sebagainya. Ingat, dosa sekecil apapun yang dipelihara adalah benih untuk kejahatan besar di masa depan. Iblis tidak butuh kita langsung murtad, Iblis hanya butuh kita kompromi dengan dosa seperti satu senti setiap hari sampai kita menjadi mati rasa (sudah tidak takut dengan dosa).
  3. Membuka pintu bagi Iblis
               Dalam narasi Alkitab, ada dua ayat yang sangat krusial mengenai keterlibatan Iblis dalam hidup Yudas: "Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas" (Lukas 22:3) dan "Sesudah Yudas menerima suapan itu, ia kerasukan Iblis" (Yohanes 13:27). Banyak orang bertanya: Apakah Yudas dikendalikan secara paksa oleh Iblis, atau apakah ia membuka pintu tersebut? Iblis tidak tiba-tiba masuk ke dalam hidup seseorang yang memiliki pertahanan rohani yang kuat. Yudas membuka pintu bagi iblis melalui Pintu Cinta Uang, Pintu Kekecewaan, Pintu Kemunafikan dan lainnya.
               Rasul Paulus menulis dalam Efesius 4:27, dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Kata "Kesempatan" (topos) berarti "tempat" bagi iblis. Yudas tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada Iblis dalam satu malam. Ia memberinya "tempat" sedikit demi sedikit:
    1. Tempat dalam pikiran: Memikirkan uang daripada kemuliaan Allah.
    2. Tempat dalam tindakan: Melakukan kecurangan kecil.
    3. Tempat dalam persekutuan: Menghadiri jamuan kudus dengan niat mengkhianati.
               Ketika "tempat" itu sudah cukup luas, maka terjadilah apa yang dicatat di Lukas 22:3: Iblis “masuk” (eiselthen) bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pengendali. Maka kita mengetahui sekarang bahwa Yudas Iskariot di akhir zaman adalah orang yang membuka pintu (memberi celah) bagi iblis untuk masuk menguasainya. Menjadi perenungan kita, apakah saat ini ada pintu yang sedang kita buka untuk iblis masuk ? Pintu bagi iblis terbuka ketika adanya kompromi dengan dosa. Iblis akan memanfaatkan cela-cela yang terbuka untuk menguasai hidup kita. Apapun dosa yang kita anggap “kecil” ketika tidak dibereskan akan menjadi pintu (cela) bagi iblis untuk menguasainya.

Kesimpulan : Siapa Yudas Iskariot di Akhir Zaman ?

  • Yudas Iskariot diakhir zaman adalah orang yang menjadikan ritual agama sebagai alat untuk mencari keutungan pribadi.
  • Yudas Iskariot diakhir zaman adalah orang yang kompromi dengan dosa.
  • Yudas Iskariot di akhir zaman adalah orang yang membuka pintu (memberi celah) bagi iblis untuk masuk menguasainya.
Refleksi diri : Apakah kita adalah orang yang berpotensi menjadi Yudas Iskariot di Akhir Zaman ? dan Apakah kita adalah orang yang tidak mau hidup dalam pertobatan ? Apakah Yudas Iskariot menyesal dan bertobat ? Next Part #2

Posting Komentar

0 Komentar